Sunday, July 26, 2026

Short Story: Guru Yang Menjadi Dua

 


Guru yang Menjadi Dua
by: Wishnu Wardhana


    Siang itu tampak menjadi hari yang biasa saja. Masuk jam pelajaran kesembilan, semuanya tampak berjalan biasa saja. Sejam lagi sekolah akan berakhir, kupikir. Entah kenapa, guru punya pikiran cemerlang untuk mengadakan ulangan matematika di jam segini. Biasanya, ulangan diadakan di jam pertama atau kedua di hari lainnya. Apa boleh buat.

    Di tengah soal-soal yang hampir semuanya tidak kutahu jawabannya (entah kenapa, dengan asal menebak pun biasanya aku dapat nilai 60 sampai 70. Jadi tidak masalah) aku terus menatap ke arah kertas soal, sambil memikirkan tebakan jitu berikutnya. Mungkin benar, mungkin salah. Tapi biasanya, kalau jawabannya kupikirkan benar-benar, hasilnya akan benar. Beda kalau misalnya aku asal mengisi saja.

    Pak Guru yang dari tadi duduk di meja sambil entah menulis apa, tiba-tiba bangkit berdiri. Temanku si A yang biasanya minta contekan dari aku, berbisik pelan dari belakangku "ssst, nomor 31 dan 32, dong. Apa jawabannya?"

    Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Aku baru sadar, dari tadi aku sebenarnya cuma bengong. Aku tidak benar-benar memikirkan jawaban soal yang ada di depanku ini. Sekenanya kujawab si A, "nomor 31 C, nomor 32 D."

    "Beneran, nih? Yang benar, dong!" kata si A.

    "Sssh, udah tau nyontek, masih juga gak percaya! Kalau gak percaya, hitung sendiri!" kujawab setengah memekik.

    Pak Guru sepertinya mendengar percakapan kami, lalu berjalan pelan ke arah kami.

    Aku tak berkata apa-apa lagi, selain kembali mengarahkan pandanganku ke arah kertas. Aku sudah cukup pusing memikirkan jawaban ini, bagaimana kalau Pak Guru tiba-tiba menghardikku. Konsentrasiku bisa buyar. A pun tampaknya berpikir hal yang sama, kami kembali sok sibuk dengan soal ulangan kami seolah-olah tahu jawabannya.

    Karena aku menunduk ke bawah, aku tak benar-benar melihat wajah Pak Guru; cuma, karena yang lain duduk dan Pak Guru satu-satunya yang berdiri (dan berjalan ke arah kami), aku bisa melihat beliau mendekat dari sudut mataku.

    Selangkah... Dua langkah... Tiga langkah... Sekitar sepuluh jengkal lagi Pak Guru sampai di samping mejaku. Aku sudah mengira beliau akan menegorku, dan aku coba memikirkan jawaban sekenanya.

    Sekarang jarak kami mungkin tinggal selangkah. Aku bisa merasakan wangi parfum murah Pak Guru saat ia berjalan di sampingku. Tetapi, ia tak berhenti di mejaku.

    Mungkin ia mau menegor si A, pikirku.

    Karena Pak Guru sudah hilang dari ekor mataku, aku tidak memikirkannya lagi. Mungkin beliau akan berbalik beberapa detik lagi, karena posisi dudukku adalah kedua dari belakang dan si A duduk menempel tembok, persis di belakangku.

    Satu detik... dua detik... lima detik... Kok Pak Guru belum kembali berjalan ke depan. Aneh sekali, mungkinkah dia bersender di dinding belakang sambil mengawasi seluruh kelas? Mungkin saja.

    Hal yang tak kupercaya terjadi saat aku mengangkat kepala. Pak Guru duduk di mejanya di depan kelas! Bahkan beliau tampak sekali sedang berjuang menahan kantuk.

    "Hah?"

    Karena ulangan masih berlangsung dan masih ada waktu setengah jam lagi, keanehan itu kusimpan saja di dalam hati. Aku bermaksud menanyakannya kepada A setelah ulangan selesai nanti.

    Sebisanya kuselesaikan ulanganku, entah hasilnya bagus atau tidak. Kalau kita terlalu kuatir, biasanya hasilnya malah jelek (tapi jawabannya tetap harus benar-benar dipikirkan, ya.)

  Tak berapa lama, bel panjang berbunyi, tanda jam pelajaran, jam ulangan, dan sekolah hari itu berakhir.

  Sekarang Pak Guru benar-benar berdiri, dan mulai mengumpulkan kertas jawaban. Aku pun memberikan kertasku kepada Pak Guru. Salam penutup dan beliau pun pamit kembali ke ruang guru.

    Tak sabar, kuhampiri si A yang masih memasukkan buku-buku ke tasnya.

    "A, A! Lo liat gak tadi?"

    Si A tampaknya tahu aku akan bertanya soal itu, tapi ia tampak enggan menjawabnya. Ia terus membereskan barang-barangnya.

    "A! Beneran nih gue tanya?"

    A tampak merasa tidak bisa mengelak lagi, lalu menjawab cepat, "Iya, iya. Gue liat. Pak Guru tadi lewat di samping kita, kan? Tapi dia ada di meja depan sebenernya?"

    Berarti A melihat hal yang sama sepertiku. Mendengar percakapan kami, beberapa orang teman lainnya ikut nimbrung dalam obrolan itu.

    "Iya loh! Kalian juga liat? Gue juga!"

    "Iya, iya! Gue kira cuma gue yang liat!"

    Kelas kami terdiri dari 5 baris meja yang masing-masing diisi dua orang. Setidaknya 8 dari 10 orang yang berada persis di sebelah jalur beliau lewat merasa melihat hal yang sama.

    Karena bingung, kami menganggap hal itu aneh tapi bukan tidak mungkin terjadi. Mungkin saja kami semua salah lihat.

    Pulang sekolah, kuceritakan hal itu pada Nenekku.

    "Wah, kasian guru kamu. Kata orang dulu, biasanya orang yang keliatan jadi dua bakal segera dipanggil."

    Nenekku benar. Besok hari, kami mendengar beliau tewas tertabrak truk sampah.

    RIP Pak Guru.