Tuesday, January 15, 2013

Pengalaman ibadah di GBI

     
     Minggu kemarin (13/1) saya dapat pengalaman baru yang memperluas pandangan saya tentang Kekristenan: saya ibadah di Gereja Bethel Indonesia, yang beraliran Karismatik, bersama teman saya Kezia dan Lidya, sekalian datang menginap di rumah Kezia, di Cengkareng, dekat bandara Soekarno-Hatta. Kezia kemarin juga merayakan ulang tahun ke-19, jadi momen ini spesial sekali baginya. Namun bagi saya meninggalkan kesan tambahan.

     Sebelumnya, saya sering mendengar tentang aliran Karismatik. Sejauh yang saya tahu, selama ini Karismatik identik dengan musik band, pendeta yang berapi-api, dan bahasa roh; saya masih belum percaya betul apa sang WL (Worship Leader) bisa selalu berbahasa roh setiap minggu, yang hampir selalu tiga rumusan (yang saya tahu): "Labalabalabalaba..", "Sandalamasandalamasandalama.." dan "Alamoalamoalamoalamo..". Saya tak paham juga maksudnya, menurut teologi mereka, yang seperti itu, katanya, dipenuhi Roh Kudus. Saya juga kurang paham sih, jadi ya oke-oke saja.

     Pertama saya ikut ibadah Youth (khusus pemuda/i, meskipun orang tua boleh juga ikut) malam jam 19.00. Dari awal, musik sudah menghentak sekali dengan instrumen yang biasa digunakan saat konser, berbeda sekali dengan ibadah Gereja Katolik yang cuma menggunakan organ pipa. Lagu pujian dan penyembahan sebanyak tiga lagu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian Firman Tuhan, oleh seorang pemuda, namanya Bang Roy (kata Kezia sih dosen), yang, seperti yang saya perkirakan, sangat berapi-api. Selama sejam lebih sedikit Bang Roy berkhotbah (yang buat saya lebih seperti stand-up comedy), disertai dengan gelak tawa dan canda dari jemaat. Saya takjub juga melihat khotbah yang seperti ini. Di Gereja Katolik, mana pernah saya melihat jemaat tertawa keras-keras dan sangat cair suasana. Romo biasanya berkhotbah (homili dalam istilah Katolik) dengan nada suara datar dan sesekali dibumbui guyonan khas Jawa (kebetulan pastor di gereja saya mayoritas Jawa).

     Setelah itu dilanjutkan dengan kolekte. Kalau soal kolekte ini tidak jauh berbeda dengan Gereja Katolik, dan untuk penutup diakhiri dengan warta sekilas dan pujian penutup. Dua jam tepat ibadah berlangsung. Porsi terbanyak digunakan untuk khotbah, yang buat saya menarik sekali. Lagu-lagu pujian hanya setengah jam sampai 45 menit kira-kira. Setelah itu kami menginap di rumah Kezia.

     Paginya, sebenarnya kata hati saya lebih memilih ikut misa di gereja Katolik terdekat, namun setelah saya cari di Google Maps letaknya cukup jauh dari tempat menginap kami, jadi ya saya ikut lagi ibadah Minggu pagi. Ibadah minggu diberi istilah "Ibadah Raya", dan terdapat dua kali persembahan alih-alih satu dan khotbah disampaikan oleh Gembala Jemaat, yaitu Pdt. Rinson Butarbutar, yang juga om dari Kezia. Beliau juga menyampaikan khotbah dengan cair dan menghibur, yang saking panjangnya topiknya berputar-putar dari daging babi sampai keluarga. Sisanya persis sama dengan ibadah Youth. 

     Cara beribadah gereja-gereja Karismatik ini sangat menarik perhatian saya dari dulu, apalagi setelah merasakan langsung. Kok bisa-bisanya ya mereka terfokus memuji dan menyembah Tuhan dengan jingkrak-jingkrak begitu? Apalagi ditingkahi tepuk tangan, yang membuatnya seperti konser rock. Sepanjang ibadah jujur telinga saya cukup 'terganggu' dengan speaker yang dinyalakan, sepertinya dengan volume full. Seperti konser dengan lagu rohani. Namun khotbahnya saya acungi jempol. Meskipun sering out of topic, tapi secara keseluruhan sangat menghibur dan sangat down to earth, menyentuh problematika kehidupan sehari-hari dengan muatan religius. Tidak seperti di gereja Katolik, yang lebih sering mengangkat topik yang 'ketinggian' menurut saya dan sangat normatif.

     Satu hal lagi yang saya kagumi dari gereja Karismatik adalah semangat pelayanan jemaatnya. Meskipun gereja mereka kecil (di GBI Taman Mahkota, kira-kira hanya 10x5 meter), namun kalau berbicara tentang Tuhan, wah mereka paling berapi-api. Tidak seperti umat Katolik yang banyak saya temui, kebanyakan tidak terlalu religius dan jarang baca Alkitab. Bukan mendiskreditkan, namun apabila dibandingkan, kira-kira seperti itulah. Ingat bahwa perbuatan oknum tidak menggagalkan konsepnya, jadi kembali ke manusianya lagi. Lalu satu lagi yang ingin saya sorot: jemaat Karismatik sangat welcome terhadap orang asing yang baru ibadah di gereja mereka, seperti saya dan Lidya yang dari 'luar' disambut dalam warta gereja. Tentu saja bagi 'domba-domba' yang belum menemukan pilihan untuk beribadah, keadaan seperti ini sangat membuat mereka nyaman.

     Akhir kata, meskipun banyak hal istimewa dari pengalaman saya beribadah di gereja Karismatik, namun pada akhirnya saya lebih merasa cocok dan nyaman beribadah di gereja Katolik. Sepertinya lebih 'dalam' dan refleksif, dan yang pasti telinga dijamin sehat walafiat.

Proficiat buat GBI dan semua gereja Karismatik! 

    

Wednesday, December 26, 2012

Natal 2012: Refleksi dan Renungan

     Setelah minggu-minggu akhir UAS yang melelahkan dan Natal yang sayangnya telah berlalu, baru saya sempat untuk menulis post baru. Saya ingin menyampaikan hasil renungan saya selama Natal kemarin.
     
     Natal, seperti yang kita semua tahu, adalah peringatan kelahiran Yesus Kristus. Kejadian ini sangat dianggap penting oleh umat Kristen pada umumnya, dan Katolik pada khususnya; meskipun puncak liturgi Katolik adalah Penyaliban dan Paskah Tuhan. Ada beberapa hal yang menurut saya, sangat layak untuk direnungkan untuk memahami esensi Natal yang saya rasa tepat.
     
     Sekarang ini (mungkin juga sudah sejak abad yang lalu) Natal selalu identik dengan cita rasa yang Eropa sekali: salju, putih, pohon cemara, Sinterklas, kado, hiasan, lampu, dan sebagainya. Memang semua ciri khas tadi adalah bawaan dari budaya yang berkembang di Eropa sana. Saya pikir, mungkin tradisi Natal harus diinkulturisasikan kedalam budaya yang dipahami orang Indonesia. Contoh: Sinterklas dengan pakaian merah yang tebal, mungkin harus diganti dengan pakaian yang tidak terlalu meriah. Begitupun pohon cemara, yang tidak tumbuh di Indonesia. Mungkin juga harus diganti dengan pohon khas Indonesia seperti pohon sawo atau yang lain.
     
     Romo di gereja saat misa Natal kemarin mengatakan, alasan pemilihan pohon cemara sebagai pohon Natal hanya karena satu alasan: pohon itu merupakan satu-satunya pohon yang menampakkan daunnya selama musim dingin, ketika pohon-pohon lain meranggas dan menggugurkan daunnya. Pohon cemara adalah simbol harapan, "Hope" yang tak habis ditelan musim atau waktu. Evergreen sepanjang waktu.
     
     Sebetulnya malah saya merasa risih dengan suasana menjelang Natal. Sekitar seminggu sebelum Natal, semua pusat perbelanjaan di kota tempat tinggal saya (Depok, maksudnya) tak henti-hentinya memutar lagu-lagu Natal dan semuanya memasang hiasan Natal semeriah mungkin, tentunya disertai promo-promo diskon yang menarik. Bahkan mungkin lebih meriah daripada suasana menjelang Idul Fitri. Padahal umat Kristen di Depok bukan (tepatnya: belum) menjadi mayoritas. Namun saya perhatikan, fenomena ini terjadi merata di seluruh Jabodetabek (setidaknya dari beberapa pusat perbelanjaan yang saya kunjungi selain di Kota Depok).
     
     Apa yang salah? Bukan saya tidak senang Natal dirayakan meriah. Namun pesan yang dikandung dibalik semua hiasan itu. Orang kini cenderung menganggap Natal adalah masa berpesta, masa bersuka-ria menyambut datangnya Juruselamat. Kehadiran Juruselamat di dunia diperingati dengan hura-hura. Makan-minum berlebihan. Ketawa-ketiwi. Meskipun jujur, saya juga begitu kemarin (iyalah, kapan lagi?!) namun saya paham, pesan yang ingin disampaikan bukan itu, sebenarnya.
     
     Natal pertama di Bethlehem adalah natalnya orang-orang termiskin. Cuma gembala yang berkumpul di sebuah kandang domba yang terpencil di luar kota, menemani Ibu Maria dan suaminya Yosef yang menantikan Anak mereka. Lenguhan domba dan jerami yang hangat menjadi pelengkap suasana kedatangan sang Penebus. Tak ada lampu, hiasan, dan segala macam ornamen Natal. Bahkan iringan musik organ pun tak ada. Cuma seorang Bayi mungil yang lahir, terbungkus lampin yang hangat. Tak lama datang Tiga Orang Majus (Caspar, Melkior dan Balthasar) membawa emas, kemenyan dan mur bagi sang Raja yang telah turun.
     
     Natal harusnya menjadi momen yang baik untuk berefleksi. Betapa kehadiran sang Juruselamat telah menjadi sukacita bagi kita untuk mengenang momen pembebasan manusia dari jerat dosa. Sesuai dengan motto resmi PGI dan KWI untuk Natal tahun ini: "Allah telah mengasihi kita" (1 Yoh 4:19), Allah telah menunjukkan belas kasih-Nya yang tertinggi dengan menjelmakan diri-Nya dalam rupa insan, guna menebus dosa kita manusia yang luar biasa banyak, yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman Adam. Allah kita bukan Allah yang gengsi, yang tidak berbuat sesuatu apapun untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang Ia kasihi. Ia sendiri rela turun ke dunia. Kurang luar biasa apa?
     
     Natal juga hendaknya menjadi momen untuk memikirkan kembali: pantaskah kita untuk merayakan datangnya sang Juruselamat? Memang kita adalah manusia, yang cenderung jatuh ke dalam dosa, tapi ya setidaknya, bisa berbuat yang baik, lebih banyak dari dosa yang kita perbuat. Satu contoh yang berharga, yang saya alami tepat setelah misa Natal kemarin, ketika saya pulang naik motor dari gereja. Di jalan, saya hampir menabrak orang yang sepertinya tidak melihat dulu sebelum menyebrang. Bukannya minta maaf (atau setidaknya jalan terus) dia malah memaki saya, dengan kata yang tidak pantas. Kalau dalam keadaan normal, akan saya ladeni itu orang. Namun berhubung saya baru berdoa "..Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.." saya tersenyum saja kepadanya, dan melanjutkan perjalanan. Saya kira pengalaman sehari-hari seperti ini sangat berharga untuk mengetes iman kita, dan penghayatan kita akan doa-doa yang sehari-hari kita ucapkan.
     
     Akhir kata, Natal memang momen yang tepat untuk dirayakan, tapi tetap memperhatikan kesederhanaan, itu yang penting. Selamat Natal!      

Thursday, December 13, 2012

Pemilihan Koorfak Kuksa FIB UI 2013

     Dalam post saya yang terakhir, saya janji menulis post baru dalam empat atau lima hari. Namun, mohon maaf apabila janji tinggal janji. Intensitas kesibukan dan pekerjaan yang tinggi dan sempat dirawat minggu lalu menyebabkan tertundanya penulisan post baru. Sekarang, ditemani sebatang Marlboro dan Big Cola, saya mau bercerita tentang keadaan kampus dan kehidupan hari-hari ini.

     Di bulan Desember ini, semua sibuk. Terutama di kampus, selain menyiapkan diri menghadapi UAS dan segala hal yang menyertainya, adalah persiapan berbagai organisasi kampus yang sebentar lagi akan mengalami pergantian pengurus. Nyaris semua organisasi, seperti BEM, DPM, ISJ (Ikatan Studi Jerman) dll mengalami pergantian. Buat kami angkatan 2011 yang sudah setahun malang-melintang di kampus, tentu biasa saja menghadapinya. Namun dalam kesempatan ini saya ingin menggaris bawahi beberapa organisasi yang punya makna spesial dalam kehidupan saya.


     Kuksa FIB UI adalah organisasi yang paling saya ikuti terus perkembangannya. Berhubung saya menjadi salah satu staff yang bertugas menyiapkan acara, sekarang adalah saatnya bagi kami angkatan 2011 untuk 'naik pangkat' menjadi pengurus teras. Karena akan diadakan pergantian koorfak (koordinator fakultas) untuk tahun 2013, maka saya mengajukan diri menjadi salah satu calon. Diantara calon lain terdapat Camil, Echa dari Sastra Prancis, Inggit dari Sastra Jepang, Marlina dari Sastra Inggris, dan Sisca dari Sastra Belanda.


     Kalau saya boleh pikir, keputusan saya mencalonkan diri sebenarnya didasari oleh rasa peduli terhadap organisasi ini. Sebagai tempat untuk mencurahkan dan memenuhi kebutuhan spiritual saya, sepertinya saya merasa terpanggil untuk turut membantu mengembangkan dan mempertahankan entitas organisasi ini, agar dapat tetap eksis dan diterima dalam dinamika kehidupan kampus. Saya merasa khawatir, apakah saya pantas mencalonkan diri, mengingat beberapa keadaan yang 'sepertinya' belum saya penuhi demi mencapai hal itu; biarpun demikian, saya merasa, biar saja, yang penting calonkan diri dulu.


     Saya belum pernah terlibat jauh dalam sebuah organisasi seperti yang saya lakukan dalam Kuksa FIB ini. Sejak awal keterlibatan saya dalam Weekend tahun lalu, semakin jauh saya berusaha memahami dan mendalami artinya, apa yang saya sudah kerjakan selama ini. Walaupun taruhannya berat, tapi saya yakin dan percaya semua baik adanya dan Tuhan mau menjaga saya, semua hal yang saya kerjakan.


     Peluang untuk terpilih sebagai koorfak sendiri rupanya cukup terbagi merata. Sejak awal, saya merasa bahwa yang akan dicalonkan sebagai koorfak ada tiga: saya sendiri, Sisca dan Marlina. Sisca dengan jaringan pertemanannya yang luas di berbagai organisasi kampus dan Marlina dengan skill organisasinya yang memadai, membuat saya lebih memilih mereka berdua, sebenarnya, sebagai koorfak. Namun setelah mendengar sharing dari koorfak-koorfak sebelumnya bahwa sebetulnya tidak diperlukan orang yang 'sempurna' untuk jabatan ini, maka saya berpikir, ya sudah. Saya juga mau mengabdikan diri.


      Pemilihan akan dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Desember. Semoga Tuhan berkenan memilih diantara kami, yang terbaik dan terpantas.


      

Thursday, November 08, 2012

So lama nyanda baku dapa!

     Abis lima bulang nya' batulis pa kita pe blog, ini hari kita so kase tulis ulang. Kita piki, kita pe blog ini so batimpas karna so lama nya' babuka. Mar untung se bisa. Kita se nintau mo tulis apa, kong kita musti ada isi vor bekeng ulang kwa. Kita so rindu pa bobengka, panada, woku, laeng makang, so lama nya' lia itu. Momase' sandiri nintau deng nimbisa. Kong pemana? Kita se cari itu makang, mar se ada laeng tempo..

     Oya, kita mo bacirita vor kita pe lege lei, kong kita so lama nya' kase bale ka Wenang. Ni ati so bapica, batunggu pa ari, mar bulung ada kase tau. Mungkin musti baafsprak dulu kwa. Kita somo bekeng laeng tulisan dalang ampa deng lima ari. Baku dapa ulang dang..

Friday, June 15, 2012

Teologi Kemakmuran

     Pertanyaan tentang teologi berdasarkan materi telah 'menggoda' pemikiran saya selama beberapa waktu. Sebetulnya, menurut ajaran yang dibenarkan itu apa? Teologi kemakmuran atau sebaliknya? Saya baru menemukan sebuah artikel yang menarik di situs katolisitas.org yang menjawab pertanyaan saya ini, maka saya pikir ada baiknya pula apabila saya teruskan di blog ini, sehingga Pembaca dapat mengetahui definisinya dan juga pandangan berdasarkan beberapa sudut pandang. Selamat membaca.

Teologi Kemakmuran: Ajaran Gampang Tapi Salah!
Ditulis oleh: Stefanus Tay
Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

Berikan sumbangan, maka engkau akan menerima kembali berlipat ganda.

Seruan untuk memberikan sumbangan finansial kepada misi evangelisasi dengan iming-iming untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan secara berlipat ganda, seperti yang sering didengungkan oleh para televangelists yaitu para evangelis yang melakukan pewartaan melalui media televisi. Di satu sisi, mendukung misi evangelisasi adalah baik, namun kalau dilakukan dengan motivasi untuk mendapatkan kembali berlipat ganda apa yang akan diberikan, maka motivasi ini keliru. Dalam hal ini, seolah-olah sumbangan dilakukan bukan dengan alasan kasih, namun menjadi suatu urusan bisnis, yang dilihat dari segi untung dan rugi. Pemikiran seperti ini adalah suatu gambaran akan maraknya teologi kemakmuran.

Dalam artikel ini, kita akan melihat latar belakang dari teologi kemakmuran, pengaruh materialisme pada teologi kemakmuran. Lebih lanjut kita akan menelaah bahwa teologi seperti ini justru bertentangan dengan: 1) Alkitab, 2) jemaat perdana, 3) kehidupan para santa-santo, 4) akal sehat, 5) dimensi eskatologi. Dan pada akhirnya, kita akan melihat tentang apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “hidup berkelimpahan“, yang sering didengung-dengungkan oleh banyak orang, terutama oleh penganut teologi kemakmuran. Dengan memahami makna  “hidup berkelimpahan” secara benar, maka kita dapat menempatkan nilai-nilai kekristenan dan semangat Injil di tempat yang semestinya. Yaitu,  hidup berkelimpahan ini terutama menyangkut hal spiritual dan mengarah pada tujuan akhir manusia, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga, tanpa melihat apakah orang tersebut kaya maupun miskin secara jasmani.


I. Definisi dan sejarah teologi kemakmuran

1. Latar belakang teologi kemakmuran.
Teologi kemakmuran mulai dipopulerkan di Amerika pada waktu belakangan ini, terutama dengan menjamurnya televangelist yang cukup populer, dengan gaya penginjilan yang khas dan berapi-api. Secara prinsip, teologi kemakmuran mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan berkat spiritual, namun terutama adalah berkat kesehatan dan kekayaan. Dan kerap kali kesehatan dan kekayaan dapat diterima sebagai akibat dari tindakan menabur (seeding), yaitu dengan memberikan perpuluhan. Bahkan dikatakan bahwa kekayaan adalah suatu tanda bahwa akan kasih Tuhan kepada umat-Nya.
Kita dapat melihat akan beberapa pernyataan dari beberapa televangelist maupun pendeta-pendeta terkenal, salah satunya adalah Joel Osteen yang mengatakan di salah satu kotbahnya:
“Bagaimana untuk hidup dalam kemenangan total? Yesus yang mati, telah bangkit pada hari ke-tiga. Yesus berkata “karena saya hidup, maka engkau juga akan memperoleh kehidupan.” Diinterpretasikan bahwa Yesus menginginkan kita semua untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan: hidup yang bukan dipenuhi dengan kebiasaan buruk, bukan hidup yang biasa-biasa saja. Bukan kemenangan setengah-setengah, di mana kita mempunyai keluarga yang baik, kesehatan yang baik, namun senantiasa mempunyai masalah dengan masalah keuangan. Ini bukanlah kemenangan yang total. Kalau Tuhan melakukan sesuatu di satu area, Dia akan melakukan juga di area yang lain. Orang yang mengalami masalah kesehatan dan menerimanya sebagai sebuah salib, adalah tidak benar, karena Yesus telah membayar semuanya, sehingga kita dapat bebas secara total – yang berarti bebas dari kebiasaan buruk maupun kecanduan, bebas dari ketakutan dan kekuatiran, bebas dari kemiskinan dan kekurangan, bebas dari kerendahan diri. Karena Yesus telah membayar harga agar kita bebas, maka kita harus bebas secara total. Untuk dapat bebas, maka kita harus tahu siapa diri kita, yang adalah anak-anak Allah, yang bukan orang-orang yang biasa, telah direncanakan oleh Allah sebagai pemenang, yang mempunyai kesehatan yang baik, dan juga banyak uang untuk membayar tagihan-tagihan, …”
Kalimat-kalimat di atas adalah merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga diri yang baik, kesehatan yang baik, dan juga mempunyai kekayaan – sebagai manifestasi dari kebebasan yang total, yang seolah-olah ditawarkan oleh Yesus, karena Yesus telah membayar lunas seluruhnya. Dikatakan, dengan pengorbanan Kristus, maka seluruh umat Allah harus hidup dalam kelimpahan, termasuk dalam urusan kesehatan dan kekayaan. Namun, apakah benar bahwa pesan ini adalah sesuai dengan semangat Injil?

2. Pengaruh materialisme terhadap teologi kemakmuran.

Kalau kita melihat secara lebih cermat, maka kita dapat melihat bahwa materialisme yang melanda dunia ini mempengaruhi teologi kemakmuran. Dunia yang dilanda materialisme – paham di mana kesuksesan, kehormatan dan kemampuan seseorang menjadi parameter apakah seseorang menjadi berharga atau tidak, masuk ke dalam teologi kemakmuran. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan teologi kemakmuran yang baru marak di abad ke-20 ini, di mana materialisme melanda dunia dalam segala bidang.
Materialisme – paham yang percaya bahwa yang benar-benar ada adalah sesuatu yang bersifat materi – memberikan pengaruh kepada teologi kemakmuran. Rahmat Allah yang terbesar – yaitu janji akan kebahagiaan Sorgawi – direduksi menjadi kebahagiaan yang bersifat duniawi dan bersifat material, seperti rumah, kesehatan, kekayaan. Dengan demikian, efek dari pengorbanan Kristus di kayu salib direduksi menjadi kebahagian semu yang ada di dunia ini. Alasan untuk mendapatkan kebahagiaan material yang dibayar dengan pengorbanan Kristus, rasanya menjadi terlalu murah dan terlihat menjadi kesia-siaan, karena memang Kristus bukan datang ke dunia untuk memberikan kebahagiaan duniawi namun kebahagiaan sorgawi. Mari kita membandingkan teologi kemakmuran dengan prinsip-prinsip Alkitab.

II. Teologi kemakmuran salah dalam menangkap pesan Alkitab dan tidak didukung oleh kesaksian jemaat perdana.

1. Teologi kemakmuran bertentangan dengan Alkitab.
a. Memang ada bagian di Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan kemakmuran bagi orang-orang pilihan-Nya. Dikatakan “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” (Ul 8:18). Kita juga melihat bagaimana kitab Amsal mengatakan “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Ams 10:22).
b. Namun di satu sisi, Alkitab juga mengatakan bahwa penderitaan – kurangnya kekayaan dan kesehatan – bukan sebagai bukti bahwa Allah tidak mengasihi umat-Nya. Kita melihat di kitab Ayub, di mana diceritakan bahwa Ayub yang saleh dan jujur serta takut akan Tuhan (lih. Ay. 1:1), tertimpa bencana. Dia kehilangan semua yang dimilikinya, termasuk kekayaannya, ternaknya, termasuk keluarganya, dan juga kesehatannya. Dan teman-teman Ayub mempergunakan teologi kemakmuran, dengan mengatakan “7 Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? 8  Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.” (Ay. 4:7-8). Teman-teman Ayub melihat bahwa kesengsaraan Ayub adalah sebagai akibat dari dosa-dosanya, karena dalam pemikiran mereka, Allah akan memberikan kelimpahan materi, kesehatan yang baik, serta kehidupan keluarga yang baik, bagi orang-orang yang menjalankan perintah Allah. Namun, pemikiran ini tidak dibenarkan oleh Allah (lih. Ay 42:7). Dari kitab Ayub ini, kita sebetulnya melihat dimensi lain dari penderitaan, yang bukan sebagai hukuman atas dosa, namun sebagai penderitaan yang innocent, yang selayaknya diterima sebagai suatu misteri.[1] Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Salvific Doloris, menyingkapkan penderitaan sebagai kesempatan untuk pertobatan, yang membangun kebaikan dari orang yang mengalaminya.[2] Dengan demikian, pengajaran teologi kemakmuran, yang melihat bahwa penderitaan fisik (jasmani maupun kemiskinan) sebagai sesuatu yang salah, seolah menutup adanya rahmat Allah yang dapat bekerja secara istimewa kepada orang-orang yang sedang mengalami penderitaan fisik.
Walaupun Kristus mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt 6:33), yang sering menjadi ayat andalan dari teologi kemakmuran, namun di ayat-ayat yang lain, Kristus juga memperingatkan para murid untuk berhati-hati terhadap bujukan mamon. Dikatakan “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt 6:24). Bahkan ditegaskan sekali lagi “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Lk 18:25). Dengan demikian, penekanan bahwa Tuhan pasti akan memberikan berkat-berkat material sebagai tanda kasih-Nya kepada umat manusia, tidaklah menyampaikan kebenaran penuh akan pesan Kristus. Hal ini  bahkan dapat menyesatkan, terutama jika Kristus kemudian seolah digambarkan sebagai tokoh semacam ‘sinterklas’ yang membagi- bagi hadiah.


2. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan jemaat perdana.

Kalau kita menganalisa sejarah kekristenan, maka kita akan dapat melihat bahwa pada masa awal kekristenan, bukan kekayaan materi dan kesehatan yang baik, yang mereka dapatkan, namun justru dikejar-kejar oleh penguasa. Kita dapat melihat contoh mulai dari Yesus yang akhirnya meninggal di kayu salib, para rasul yang juga menderita dan mati dalam penganiayaan, para jemaat perdana yang juga menderita dan banyak yang meninggal dalam mempertahankan iman mereka. Tubuh mereka bukannya mendapat kesehatan yang baik, namun sering berakhir pada perut singa-singa yang buas. Mereka inilah yang dengan setia memegang dan menjalankan pengajaran Kristus sampai pada titik mengorbankan diri mereka. Mereka mencintai kebenaran yang diwartakan oleh Kristus lebih daripada harta kekayaan mereka, melebihi tubuh mereka dan melebihi nyawa mereka. Bahkan dikatakan bahwa Gereja dibangun di atas darah para martir.


3. Teologi kemakmuran bertentangan dengan kehidupan para santa-santo.

Kalau kita mempelajari kehidupan para santa-santo, maka kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang dipakai oleh Tuhan dengan begitu luar biasa. Mereka senantiasa bekerjasama dengan rahmat Tuhan, sehingga menghasilkan buah-buah yang limpah, dalam membawa banyak orang kepada Tuhan, melalui doa- doa dan  karya kerasulan mereka. Namun, apakah mereka mempunyai kesehatan yang baik serta kekayaan yang berlimpah? Mayoritas dari kehidupan para santa-santo diwarnai dengan begitu banyak penderitaan. Namun demikian mereka tetap memiliki keberanian untuk mengasihi Kristus dalam kondisi tersulit apapun. Kita melihat Santo Fransiskus dari Asisi, yang meninggalkan kekayaannya demi untuk mengikuti Kristus secara lebih total. Dia menjadi santo yang besar dalam sejarah Gereja, bukan karena kekayaannya, namun karena keberaniannya dalam mengikuti Kristus, termasuk dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Lihatlah kehidupan Santo Thomas Moore dari Inggris, yang memilih kehilangan keluarga, kekayaan dan jiwanya untuk tetap setia pada Kristus dengan setia terhadap pengajaran Gereja Katolik.


4. Teologi kemakmuran bertentangan dengan akal sehat.

Kalau kasih Kristus kepada umat-Nya diukur dari seberapa banyak umat-Nya menerima berkat finansial, maka sungguh sangat disayangkan, dan bahkan tidak sesuai dengan akal sehat. Bayangkan nasib dari begitu banyak penduduk miskin di dunia. Menurut data tahun 2001, ada 1,1 milyar orang masuk dalam garis kemiskinan yang ekstrim dan 2,7 milyar masuk dalam garis kemiskinan, yang hidup kurang dari US$ 2 (Rp 18,000) per hari. Ini berarti ada sekitar 40% dari populasi dunia berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan dikatakan bahwa 6 juta anak-anak meninggal setiap tahun atau sekitar 17,000 meninggal setiap hari. Kalau kekayaan material adalah identik dengan kasih Tuhan, maka bagaimana mungkin, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan tidak mengasihi orang-orang miskin dan anak-anak yang meninggal setiap hari karena kemiskinan? Bagaimana mungkin bahwa Tuhan pilih kasih dan memberikan hukuman kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, dan sebagian bukanlah akibat kesalahan mereka sendiri…


5. Teologi kemakmuran menghilangkan dimensi eskatologi.

Dengan memberikan penekanan pada kemakmuran material di dunia ini, maka teologi kemakmuran secara tidak langsung mengaburkan dimensi eskatologi – yaitu yang berhubungan dengan akhir zaman. Penekanan yang terlalu banyak akan kebahagiaan material dari teologi kemakmuran membuat seseorang berfokus pada apa yang terjadi di dunia ini dan mengaburkan apa yang menjadi tujuan akhir dari seorang Kristen, yaitu berkumpul bersama dengan Allah untuk selamanya di dalam Kerajaan Sorga.
Kita tahu bahwa seorang Kristen hidup di dunia ini, namun bukan dari dunia ini. Seorang Kristen harus mempunyai kesadaran bahwa apa yang dialami di dunia ini hanyalah bersifat sementara, karena pada saatnya nanti ketika kemah kita di dunia ini dibongkar, maka Allah telah menyediakan tempat kediaman abadi di Sorga (lih. 2Kor 5:1). Seorang Kristen harus tahu bahwa kebahagiaan sejati bukanlah kebahagiaan material, namun kebahagiaan spiritual, yang akan diterima dan dialami secara penuh pada saat kita masuk dalam Kerajaan Sorga.


III. Arti yang sesungguhnya dari “hidup berkelimpahan“.

Kalau teologi kemakmuran menekankan kemakmuran material, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan kata “kemakmuran“, namun yang menjadi masalah adalah penekanan kemakmuran pada hal-hal yang bersifat material. Berjuang untuk memperbaiki taraf hidup, tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun tentang hasilnya, apakah kita menjadi kelimpahan atau tidak secara duniawi, bukanlah yang menjadi fokus utama dalam kehidupan umat beriman. Sebab bukan itu yang menjadi janji Tuhan yang terutama. Kalau Tuhan memberi rejeki duniawi berkelimpahan, puji Tuhan. Kalau tidak, juga tetap puji Tuhan! Tuhan mengetahui yang terbaik bagi kita. Tuhan memang tidak melarang, bahkan mengajarkan kita untuk memohon rejeki/ makanan secukupnya setiap hari, dan ini kita ucapkan dalam Doa Bapa Kami. Janji inilah yang ditepati-Nya pada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Namun Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan materi kepada setiap orang. Memang Yesus mengatakan “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Rasul Paulus juga menekankan hidup yang berkelimpahan, namun bukan berkelimpahan dari sisi material, namun berkelimpahan dalam kasih karunia (lih. Rm 5:20; Ef 2:7) dan oleh kekuatan Roh Kudus, kita dapat hidup berlimpah-limpah dalam pengharapan (lih. Rm 15:13), serta kelimpahan akan iman, kebajikan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih (lih. 2Pet 1:6-8).
Dengan demikian, kita melihat bahwa kasih karunia Allah dicurahkan secara melimpah kepada umat yang terus bekerjasama dengan rahmat Allah. Namun, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan kelimpahan material, walaupun Dia juga akan memberikan rejeki kepada orang-orang yang mencari Kerajaan Allah dan bertanggung jawab terhadap panggilan hidupnya. Dia mengatakan kepada para murid yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Yesus “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mt 19:29). Apakah “seratus kali lipat” adalah merupakan janji untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat material (harta, kedudukan, kesehatan, dll) ataukah sesuatu yang bersifat spiritual? Untuk melihat ini, maka kita dapat melihat apa yang terjadi pada para rasul. Apakah para rasul mendapatkan kekayaan? Tidak sama sekali. Bahkan, semua rasul mendapatkan penderitaan dan kematian karena mengikuti dan mengajarkan kebenaran Kristus. Namun, di tengah-tengah penderitaan mereka, mereka tetap menerima rahmat yang berkelimpahan, yaitu rahmat spiritual – kegembiraan dalam menghadapi penderitaan dan rahmat pengharapan yang tak pernah surut, karena percaya akan janji Kristus.
Dengan demikian, makna dari hidup berkelimpahan sebagai rahmat yang mengalir sebagai orang yang percaya dan senantiasa bekerjasama dengan rahmat Allah adalah senantiasa bermakna spiritual, entah orang tersebut kaya maupun miskin. Atau kita harus menyetujui bahwa rahmat spiritual adalah lebih penting daripada rahmat material, karena spiritual adalah lebih utama dan kekal daripada material yang bersifat hanya sementara. Dengan demikian, hidup berkelimpahan terbuka bagi siapa saja, baik bagi yang kaya maupun yang miskin, yang berarti Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang. Bahkan orang-orang yang miskin mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan hidup yang berkelimpahan, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengandalkan belas kasih Tuhan. Dikatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mt 5:3) Dengan memberikan penekanan bahwa keutamaan hidup berkelimpahan adalah sesuatu yang bersifat spiritual, maka umat Allah akan senantiasa berfokus pada sesuatu yang spiritual dan mengarahkan pandangan pada tujuan akhir, yaitu persatuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga tanpa juga melupakan kebaikan badan yang harus dipenuhi selama kita berada di dunia ini.


Kesimpulan:

Dari pemaparan di atas, maka terlihat bahwa teologi kemakmuran adalah teologi yang berfokus pada sesuatu yang bersifat material dan sementara, yang bertentangan dengan pesan Kristus sendiri – yang senantiasa mengutamakan rahmat spiritual dan tujuan akhir dari manusia, yaitu persekutuan abadi dengan Allah di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian, teologi kemakmuran terlalu menyederhanakan – mungkin lebih tepatnya membelokkan – pesan Injil. Teologi kemakmuran menjadi sangat berbahaya di tengah-tengah kehidupan yang didominasi oleh materialisme, karena seolah-olah mereka mendapatkan pembenaran dari orientasi mereka ke hal-hal yang bersifat material.
Para Bapa Gereja dan jemaat Kristen awal, tidak pernah mengajarkan tentang penekanan terhadap kemakmuran jasmani. Sebaliknya, yang diajarkan mereka adalah untuk menunjukkan kasih kita kepada Tuhan sampai ke titik darah penghabisan: menyebarkan Injil meski di dalam keadaan kekurangan dan penganiayaan, dan bahkan berani menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman.
Sesuatu yang perlu direnungkan adalah buah- buah dari pengajaran Teologi sukses itu. Apakah umat jadi mau prihatin dan lebih berbelas kasih kepada sesama, atau malah cenderung menjadi sombong, dan menganggap bahwa orang miskin itu ‘layak’ miskin karena dosa mereka, sehingga mereka tidak diberkati? Bukankah ini namanya menghakimi? Hubungannya dengan Tuhan bisa seperti hubungan ‘dagang’, seolah mau memberi sekian persen penghasilan dengan harapan menerima berlipat ganda dari Tuhan, semacam investasi saja. Belum lagi kalau Teologi ini membuat umat menjadi terikat dengan kenikmatan materi, dan ini sudah pasti tidak sesuai dengan ajaran Kitab Suci, sebab malah dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10); atau bahkan Tuhan Yesus mengajarkan agar menjadi sempurna seseorang dipanggil untuk memberikan semua harta miliknya kepada orang miskin dan kemudian mengikuti Dia (Mat 19:21).
Selayaknya kita mengingat bahwa Tuhan Yesus sendiri memilih untuk lahir sebagai orang miskin, untuk mengajarkan kepada kita untuk hidup ‘miskin di hadapan Allah’ (Mat 5:3). Semoga kita sebagai murid- murid Kristus dapat diberi kebijaksanaan untuk menilai mana ajaran yang berasal dari Tuhan, dan mana yang bukan. Dan agar jangan sampai kita memilih- milih ajaran, yang mudah dan enak didengar kita terima, tetapi yang sulit kita tolak. Kita harus berdoa agar kita dimampukan oleh Tuhan untuk melaksanakan “segala sesuatu yang diperintahkan oleh-Nya” (lih, Mat 28:20) dan bukan untuk memilih- milih ajaran sesuai dengan kehendak sendiri.

 CATATAN KAKI:
  1. Paus Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris, 11 [↩]
  2. ibid, 13 [↩]

Wednesday, May 23, 2012

Tahun 70-an: Kemenangan Musik

     Setelah berbulan-bulan 'libur' mengisi blog ini, akhirnya saya punya passion lagi untuk menulis. Tadinya sih mau menulis hal-hal serius, seperti misalnya 'Perbandingan Presiden Indonesia Dari Pak Karno Sampai SBY' tapi kok rasanya malas sekali ya meneruskan, alhasil tulisan saya itu baru sampai Gus Dur, hehe.. Terus saya sepertinya lebih enjoy menulis dalam Bahasa Indonesia saja deh, soalnya kemampuan berbahasa Inggris saya sepertinya sudah jauh berkurang, bukan karena belajar bahasa Jerman terus sih, cuma saya saja kurang practice, hehe..
     Nah, dalam tulisan terbaru ini saya mau mengangkat sedikit tentang zaman favorit saya dalam dunia permusikan; tahun 70-an. Kenapa saya bilang tahun 70-an itu hebat? Karena penyanyi atau band yang muncul di dekade itu biasanya menjadi legend dan lagu-lagunya abadi, contohlah Bee Gees atau Wings di Barat dan Koes Plus, The Mercy's atau God Bless di Indonesia. Mungkin bagi anak muda sekarang, mendengarkan musik lawas seperti 'haram' hukumnya, apalagi kalau sampai ketahuan teman-teman sebaya, bisa dibilang jadul lah, antik lah, padahal belum tentu, hehe..
     Saya akan mengkhususkan tulisan ini untuk band Barat. Masa 70-an ini ditandai dengan bubarnya band legendaris The Beatles yang juga merupakan band favorit saya (mereka malah sudah mencuat di 60-an) dan personelnya bersolo karir, seperti Sir Paul McCartney yang mendirikan Wings (band favorit kedua saya) dan John Lennon dengan Plastic Ono Band-nya. 

The Beatles; abadi, bahkan fans club-nya eksis di Indonesia.

Wings, digawangi Sir Paul McCartney.

Plastic Ono Band, digawangi John Lennon dan Yoko Ono.
 Zaman ini juga jadi awal munculnya grup Queen yang beranggotakan Freddie Mercury (yang terkenal dengan falsetto-nya), Brian May, Roger Taylor dan John Deacon. Grup ini sangat legendaris dan merupakan ikon kebudayaan di Eropa dan Amerika pada saat itu, status legendaris band ini turut disertai hits-hits mereka seperti Bohemian Rhapsody, Don't Stop Me Now, Somebody to Love, Under Pressure, dan masih banyak lagi.

Queen, di tahun 70-an banyak menelurkan hits legendaris.
     Selain itu, masih ada band asal Australia yang diawaki Gibbs bersaudara: Barry, Maurice dan Robin yang wafat Senin lalu. Pembaca mungkin asing dengan nama ini; yap, mereka adalah Bee Gees. Band ini pada awalnya beraliran pop sebelum beralih menjadi disko pada paruh kedua 70-an. Kini dari ketiga personel band ini hanya Barry Gibb seorang yang masih hidup setelah kematian Robin dan juga Maurice yang wafat pada 2003 silam. Lagu-lagu mereka yang masih menjadi kesukaan banyak orang misalnya How Deep Is Your Love (yang kerap dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi zaman sekarang), Massachussets, Staying Alive, First of May, dan masih banyak lagi.

Bee Gees, kini hanya Barry (tengah) yang tersisa.
      Nah, kini tiba saatnya untuk membahas band favorit saya dari tahun 70-an; Wings. Band yang dipimpin oleh Sir Paul McCartney (idola saya) dan istrinya Linda, gitaris Denny Laine, basis Jimmy McCulloch, dan drummer Joe English telah menarik perhatian saya selama bertahun-tahun. Bukan hanya karena genre musik mereka yang pop rock (sebagian besar konser mereka diadakan di stadion), tapi juga karena merupakan pionir dari genre stadium rock, yaitu jenis musik rock yang didesain khusus untuk dimainkan di stadion sehingga gemanya sangat terasa dan menggetarkan hati. Banyak sekali hits band ini yang nempel di hati saya, seperti nomor medley legendaris Venus and Mars/Rock Show, Mull of Kintyre, Goodnight Tonight, sampai lagu favorit saya sepanjang masa Band on the Run. Popularitas mereka begitu menonjol selama tahun 70-an, khususnya setelah tur Wings Over the World yang ambisius itu. Sayangnya band super ini bubar tahun 1981, tapi Sir Paul masih meneruskan menelurkan karya emas hingga sekarang. Hidup Sir Paul!

Wings di puncak kejayaannya, mereka bahkan punya pesawat sendiri!

     Selain band-band legendaris yang disebut diatas, masih ada beberapa band kesukaan saya seperti ABBA, The Doors dan lain-lain. Tetapi di bagian penyanyi solo pun tak kalah hebatnya. Artis solo paling legendaris di tahun 70-an adalah Elvis Presley, the King of Rock n' Roll, yang kematiannya yang mendadak di tahun 1977 menyentak seluruh dunia. Elvis, meskipun sangat ketergantungan pada obat-obatan, masih mengadakan sejumlah konser besar di tahun 70-an termasuk yang paling ikonik Aloha from Hawaii dan Rock Las Vegas.

Elvis dengan kostum khasnya, saat tampil pada konser Aloha from Hawaii.

     Selain itu, masih ada penyanyi solo yang mencuat pada tahun 70-an, seperti Bob Marley (yang dijuluki the King of Reggae), serta raja gitar Eric Patrick Clapton yang dijuluki Slowhand. Pengaruh mereka dalam musik modern masih terasa, bahkan sampai sekarang dijadikan role model oleh penyanyi seperti Shakira, Jason Mraz dan lain-lain.

     Nah, demikian kira-kira yang dapat saya sarikan dari rasa ketertarikan saya pada musik tahun 70-an. Meskipun jadul, namun sejujurnya musik dari zaman inilah yang abadi dan bertahan lama, karena aspek musikalitasnya yang luar biasa dan inovasi-inovasinya dalam bermusik. Saya sangat terbuka dan welcome kepada pembaca yang ingin mengobrol soal band-band ini. Apa band/penyanyi 70-an favorit Anda?